Postingan

Aku, Aku, Aku, dan Sebuah Tulisan yang Pesimistis

Gambar
“Aku tidak ingin lagi menyimpan kenangan bersama seseorang, meski itu seujung kuku.” Begitulah jawabku singkat kala ditanya alasan mengapa aku kerap menghapus pesan dan riwayat panggilan di aplikasi  WhatsApp .  Persoalannya adalah, mengapa aku seakan membenci kenangan? Ya. Kenangan bagiku hanyalah sebuah kebahagian semu yang keberadaannya harus kamu hindari dan buang ke tempat sampah. Kenangan adalah istilah lain dari term kesakitan, kesesakan, dan kesengsaraan.  Aku paham betul apabila aktivitas membangun kenangan (bersama seseorang tentunya) adalah situasi yang begitu membahagiakan. Aku mengerti ada semacam perasaan optimistis dan menggebu-gebu yang membakar gairah jiwamu. Rasanya, ribuan bunga bermekaran di dalam hati kala kamu membangun istana memori dalam bentuk momen-momen bersama seseorang. Tidak perlu diragukan lagi, aku mengetahui semua hal tersebut dengan baik. Namun, konsekuensi logis dari aktivitas semacam itu  hanya satu: hatimu akan remuk, entah ...

Jejak-Jejak Sesak Sang Aku

Gambar
Aku melangkah di atas dunia yang tak punya hati. Dunia tanpa belas kasih. Dunia yang penuh kisah-kisah keji.   Aku melangkah dengan sederhana di atas kemewahan. Berjalan sendiri di tengah hamparan keramaian. Dan berhenti di titik yang paling kelam . Aku ingin melangkahkan kakiku pada sebuah ruang. Berlari menuju tempat tanpa bayang-bayangmu . Tanpa bayang-bayang masa lalu. Aku sadar perlarian itu tidaklah mudah. Perlarian itu adalah selamanya. Lantaran, tempat seperti itu mustahil ada.   Aku memohon secercah harapan. Harapan untuk dihidupi. Yang pada akhirnya akan mati . Aku berdoa kepada Tuhan. Meminta pertolongan yang dinanti-nanti. Meski cobaan datang silih berganti. Aku adalah pejalan kaki yang mencari keindahan duniawi. Berambisi mengkhianati lautan negasi. Kendati, nyeri yang aku nikmati. Aku berada dalam perjalanan yang begitu menyesakan hati . Perjalanan sunyi yang jejak-jejaknya tersembunyi. Tanpa harapan, tanpa impian,  Aku memutuskan untuk mati.

Karena Semuanya, Bukanlah Apa-Apa

Gambar
Aku benci kepada semuanya, karena semuanya bukanlah apa-apa Aku marah, karena semuanya bukan apa-apa. Hari ini, apa yang pantas kita cintai? Kita sayangi? Kita kasihi? Semua berlalu begitu cepat. Jarum jam berputar seperti orang yang lari terbirit dikejar hutang!   Tidak ada momen yang pantas untuk dikenang. Tidak ada memori yang pantas disimpan.   Aku benci semuanya, karena semuanya bukanlah apa-apa!   Apa itu hidup? Apa itu manusia? Apa itu cinta? Apakah jawaban dari ketiga pertanyaan ini harus dilihat secara optimis? Ataukah pesimis? Bagaimana mungkin bisa menjawabnya secara optismis sementara kita selalu menangis karenanya? Kita selalu merasa kalah karenanya; dan kita selalu gagal di hadapannya. Bagaimana mungkin bisa menjawabnya secara pesimis sementara kita selalu bahagia karenanya? Kita selalu merasa senang Karenanya; dan kita selalu riang, seperti anak kecil mengemut permen, di hadapannya. Apa yang bisa dimaknai dalam hidup yang semua isinya ...

Aku, Aku, Aku, dan Sebuah Tulisan yang Emosional

Gambar
“ When you lose something you can’t replace, When you love someone but it goes to waste, Could it be worse?” Ada ungkapan yang menyebut jika hal yang paling sakit bukanlah ketika kulit kita tergores paku berkarat, bukan pula saat lutut kita menghantam kerasnya aspal. Melainkan, pada waktu diri kita benar-benar menyadari jika orang yang memberikan momen berbahagia, waktu berharga, serta beragam ingatan yang menyenangkan, singkatnya kenangan indah, menjadi sebuah kenangan. Kehilangan seseorang yang kita cintai, kasihi, dan sayangi, aku pikir, sama rasanya kala puluhan pisau menghunjam dada dan menembus jantung kita. Seluruh tubuh terasa lesu serta sesak. Beragam aktivitas yang biasa kita lakukan menjadi tidak enak dijalani karena pikiran kita yang secara tidak karuan terus terbayang mengingat-ngingat kembali memori abstrak yang telah dilalui dan sadar sepenuhnya bahwa itu mustahil untuk diulang. Apa yang dimaksud kehilangan di sini tidak memiliki penyebab tunggal. Itu bisa saja karena ke...

Review Artikel Jurnal: Peranan Sekolah Sebagai Lembaga Pengembangan Pendidikan Multikultural karya Nur Kholik

Agar tidak disangka sebagai seseorang yang cukup blablabla dan sebagainya karena telah melakukan review pada suatu artikel jurnal, saya ingin menyampaikan suatu hal bahwasanya teks ini saya susun untuk memenuhi tugas akademik saya satu tahun lalu. Kini, saya kembali membuka teks review ini. Setelah dibaca dengan seksama, saya pikir merupakan suatu hal yang tidak sia-sia apabila teks ini turut dipublikasikan dalam (Go)blog pribadi saya ini. Supaya cukup terlihat sebagai penulis yang intelek dan kritis ( persetan  dengan kedua kata itu. Saya tidak pernah peduli), saya telah melakukan beberapa perubahan pada beberapa hal seperti struktur kalimat atau pemilihan kata yang sebelumnya acak-acakan (sama seperti hidup saya!) yang tampaknya tidak berpengaruh apa-apa (Saya berani bertaruh kalau anda akan muak dan ingin muntah setelah dua menit membaca teks ini). Penambahan catatan kaki pun juga saya lakukan semata-mata, guna terlihat sebagai sosok penulis yang memiliki banyak referensi (sebe...