Aku, Aku, Aku, dan Sebuah Tulisan yang Pesimistis
“Aku tidak ingin lagi menyimpan kenangan bersama seseorang, meski itu seujung kuku.” Begitulah jawabku singkat kala ditanya alasan mengapa aku kerap menghapus pesan dan riwayat panggilan di aplikasi WhatsApp . Persoalannya adalah, mengapa aku seakan membenci kenangan? Ya. Kenangan bagiku hanyalah sebuah kebahagian semu yang keberadaannya harus kamu hindari dan buang ke tempat sampah. Kenangan adalah istilah lain dari term kesakitan, kesesakan, dan kesengsaraan. Aku paham betul apabila aktivitas membangun kenangan (bersama seseorang tentunya) adalah situasi yang begitu membahagiakan. Aku mengerti ada semacam perasaan optimistis dan menggebu-gebu yang membakar gairah jiwamu. Rasanya, ribuan bunga bermekaran di dalam hati kala kamu membangun istana memori dalam bentuk momen-momen bersama seseorang. Tidak perlu diragukan lagi, aku mengetahui semua hal tersebut dengan baik. Namun, konsekuensi logis dari aktivitas semacam itu hanya satu: hatimu akan remuk, entah ...