Postingan

Senin Pagi dan Mentari yang Mungkin Tidak Bersinar Lagi

Woman before the Rising Sun by Caspar David Friedrich (1818) Sebagai seseorang yang hatinya telah lama ditinggal melati dan sudah terlalu banyak kehilangan sehingga tidak punya apa-apa lagi, saya selalu berhenti berharap dan menerima segala hal yang terjadi pada hidup saya. Kala pagi hari, ketika matahari mulai menunjukkan cerahnya, saya cenderung merasa kosong dan sering kali berucap “ketidakberuntungan apa lagi yang akan menyambarku kali ini.” Sementara, saat malam hari sebelum memejamkan mata untuk menuju dunia mimpi yang konon begitu indah dirasakan, saya berkata dalam kalbu “saya biasa bersabar dan semakin hari makin demikian.” Memasuki umur yang tidak lagi bisa dibilang belia, saya merasa pemahaman saya tentang hidup semakin bertambah. Bila ada seorang teman yang berbicara kalau hidup ini adalah sesuatu yang indah, saya hanya akan meresponnya dengan senyum simpul yang menyiratkan kecurigaan atau mungkin cukup dengan membuang ludah ke tanah tanpa kata-kata. Karena, bukankah orang

DESEMBER atau: Bagaimana Aku Menafsir dan Menemui Kemurungan

Gambar
The March of the Weavers by Käthe Kollwitz (1897) “ I will follow the trail to tomorrow With my loneliness with sorrow all through the night” -    Blink-182 - Boxing Day Memasuki bulan September, pertanda jika tahun akan memasuki masa senjanya. Kadang kala, aku berpikir mengenai masa sembilan hingga dua belas bulan terakhir yang telah aku lewati. Sama seperti kesimpulan yang dapat ditarik dari beberapa tulisan lampauku, masa-masa tersebut sangat gelap. Sebegitu gelap dan murung sehingga, jika boleh, layaknya film Eternal Sunshine of the Spotless Mind , aku hanya ingin menghapus semua ingatan mengenai apa yang pernah kualami pada waktu itu. Namun, aku selalu berpikir jika fase kehidupan yang disokong waktu, merupakan sebuah siklus: akan berulang terus-menerus. Sama seperti hikayat peradaban-peradaban kuno yang diceritakan oleh orang tua; dan sama seperti sinar mentari yang menerangi hari sebelum pada akhirnya terbenam menuju gelapnya malam. Nyatanya kehidupan merupakan kisah di mana ba

Arah Baru Arah Karsa

Gambar
  (Soir Bleu oleh Edward Hopper, 1914) ADA semacam perasaan menggebu-gebu nan aneh yang datang tanpa alasan dan menghantui isi kepala. Itu seperti terus berbisik kepadaku agar kembali menyusun tulisan remeh-temeh mengenai Arah Karsa. Rasanya, seperti beberapa persoalan belum selesai sehingga aku harus meluapkannya melalui dua atau tiga judul tulisan segera. SEBENARNYA, ketika merangkai kata secara perlahan pada tulisan ini, aku harus menyelesaikan beberapa tugas akademik yang telah memasuki masa tenggat. Namun, dengan begitu bodohnya, di malam yang sunyi dan penuh kegamangan, aku tetap mengetik sampai tidak sadar bahwa jarum jam telah menunjukkan pukul tiga. HARI berlalu, sementara tulisan ini belum saja selesai. Aku terjebak pada lingkaran yang seakan membuatku bingung mengenai bagaimana cara menyusun paragraf pembuka. Kalimat seperti apa yang mesti aku hadirkan sebagai ungkapan ekspresi dari hati yang sudah lama ditinggal melati? YANG bisa aku lakukan hanya menatap layar laptop

Memoar Utopia tentang Kebahagiaan

Gambar
Aku ingin membuka tulisan ini dengan mengutip satu kalimat dari catatan Thoreau ketika ia memutuskan untuk meninggalkan hingar bingar kehidupan kota dengan menetap di kawasan hutan sendirian: “Namun, haruskah kita senantiasa berusaha mendapatkan lebih, dan bukannya mencukupkan diri dengan yang sedikit?”. Catatan pengalaman Thoureau tersebut berjudul Walden . Karya ini kebetulan telah menarik diriku untuk mengangkat tema seputar krisis pada kehidupan masyarakat modern dalam tugas akhir kuliah guna meraih gelar sarjana. Entah jalan terjal seperti apa yang akan dilalui kala menyusun tugas seperti itu, yang jelas aku benar-benar tidak peduli. Kalimat yang telah dikutip tadi, bagiku, mengandung beragam sindiran menyoal bagaimana kehidupan sosial kita, kini, terkonfigurasi. Aku melihat situasi di kanan dan di kiriku. Semuanya sama: orang-orang berlomba meraih predikat sebagai yang terbaik dalam hal mengonsumsi dan membeli; juga berjuang mati-matian demi mendapat banyak lembaran kertas

Aku, Aku, Aku, dan Sebuah Tulisan yang Pesimistis

Gambar
“Aku tidak ingin lagi menyimpan kenangan bersama seseorang, meski itu seujung kuku.” Begitulah jawabku singkat kala ditanya alasan mengapa aku kerap menghapus pesan dan riwayat panggilan di aplikasi  WhatsApp .  Persoalannya adalah, mengapa aku seakan membenci kenangan? Ya. Kenangan bagiku hanyalah sebuah kebahagian semu yang keberadaannya harus kamu hindari dan buang ke tempat sampah. Kenangan adalah istilah lain dari term kesakitan, kesesakan, dan kesengsaraan.  Aku paham betul apabila aktivitas membangun kenangan (bersama seseorang tentunya) adalah situasi yang begitu membahagiakan. Aku mengerti ada semacam perasaan optimistis dan menggebu-gebu yang membakar gairah jiwamu. Rasanya, ribuan bunga bermekaran di dalam hati kala kamu membangun istana memori dalam bentuk momen-momen bersama seseorang. Tidak perlu diragukan lagi, aku mengetahui semua hal tersebut dengan baik. Namun, konsekuensi logis dari aktivitas semacam itu  hanya satu: hatimu akan remuk, entah kapan. Pasalnya, ka